Rabu, 04 Oktober 2017

VR dan perkembangannya

Virtual Reality dan Perkembangannya

Di zaman sekarang, banyak teknologi canggih yang sudah tercipta bagi masyarakat untuk kedepannya. salah satunya adalah virtual reality atau biasa disingkat VR. Virtual reality adalah sebuah teknologi yang membuat pengguna dapat berinteraksi dengan lingkungan yang ada dalam dunia maya yang disimulasikan oleh komputer, sehingga pengguna merasa berada di dalam lingkungan tersebut. Di dalam bahasa Indonesia virtual reality dikenal dengan istilah realitas maya.
Kelebihan utama dari virtual reality adalah pengguna bisa merasakan hal yang sama seperti di dunia nyata dalam dunia maya (seperti simulasi). Bahkan perkembangan teknologi virtual reality saat ini memungkinkan tidak hanya indra penglihatan dan pendengaran saja yang bisa merasakan sensasi nyata dari dunia maya dalam virtual reality, namun juga indra yang lainnya.
Teknologi virtual reality sebenarnya telah banyak diterapkan di bermacam-macam sektor industri seperti kedokteran, penerbangan, pendidikan, arsitek, militer, hiburan dan sebagainya. Virtual reality sangat membantu dalam mensimulasikan sesuatu yang sulit untuk dihadirkan secara langsung dalam dunia nyata. Seperti halnya dalam dunia kemiliteran, VR dapat digunakan dalam latihan, yakni virtual reality bisa menghadirkan situasi medan perang secara virtual menyerupai kenyataannya. Penggunaan virtual reality dalam simulasi perang disinyalir lebih murah, efisien, dan aman dibandingkan degan simulasi perang secara langsung.
Pemanfaatan virtual reality juga berandil besar dalam bidang penerbangan. Dengan menggunakan virtual reality, para pilot bisa berlatih untuk menerbangkan pesawat secara virtual. Para pilot bisa merasakan sensasi menerbangkan pesawat tanpa harus benar-benar menerbangkan pesawat Sebenarnya. Dan hal ini tentunya juga akan menghindari resiko terjadinya kecelakaan saat latihan.

Perangkat dan Elemen Virtual Reality

Untuk memunculkan sensasi nyata dari virtual reality diperlukan beberapa alat pendukung. Perangkat yang digunakan untuk mendukung teknologi virtual reality pada umumnya berupa helm, walker, headset, suit dan sarung tangan (glove). Penggunaan perangkat-perangkat tersebut ditujukan agar dapat melibatkan sebanyak mungkin alat indra yang dimiliki manusia dalam simulasi VR. Tentunya dengan semakin banyaknya indra yang terlibat dalam virtual reality akan semakin tinggi pula tingkat sensasi nyata dari dunia virtual yang dimunculkan. Namun, kita tidak harus menggunakan perangkat-perangkat tersebut secara lengkap untuk merasakan VR. Setidaknya kita cukup menggunakan headset (yang dipasangkan smartphone yang mendukung VR) untuk bisa merasakan sensasi virtual reality.
Dalam konsepnya, ada 4 elemen yang diperlukan agar bisa terciptanya lingkungan virtual reality. Adapun 4 elemen itu adalah sebagai berikut:
1.     Virtual world, sebuah konten yang menciptakan dunia virtual dalam bentuk script maupun screenplay.
2.     Immersion, sebuah sensasi yang membawa pengguna teknologi virtual reality merasa dirinya berada di dalam sebuah lingkungan nyata yang sebenarnya hanya fiktif. Immersion dibagi dalam 3 jenis, yakni:
o   Mental immersion, yang membuat mental penggunanya merasa seperti berada di dalam lingkungan nyata
o   Physical immersion, membuat fisik penggunanya merasakan suasana di sekitar lingkungan yang diciptakan oleh virtual reality tersebut
o   Mentally immersed, memberikan sensasi kepada penggunanya untuk larut dalam lingkungan yang dihasilkan virtual reality
3.     Sensory feedback berfungsi untuk menyampaikan informasi berupa rangsangan dari dunia virtual ke alat indera penggunanya. Elemen ini dapat mencakup rengsangan penglihatan, pendengaran, dan sentuhan
4.     Interactivity yang bertugas untuk merespon aksi dari pengguna, sehingga pengguna dapat berinteraksi langsung dalam medan fiktif yang diciptakan VR.
Tidak sembarang teknologi dapat dikatakan sebagai VR. Sebuah teknologi dapat dikatakan sebagai virtual reality jika sudah memenuhi beberapa persyaratan berikut ini:
  • Tampilan grafis 3D yang tampak nyata dan sesuai dengan perspektif dari penggunanya
  • Mampu mendeteksi berbagai respon dari pengguna, seperti gerakan kepala atau bola mata pengguna. Ini dibutuhkan agar tampilan grafis dapat melakukan penyesuaian perubahan pada dunia virtual dengan keaadaan pengguna itu sendiri.

Sejarah Perkembangan Virtual Reality

Dalam perkembangannya, Virtual reality bermula dari sebuah rancangan dari visi yang dibangun oleh Morton Heilig pada tahun 1962 yang bernama Senosorama. Pada tahun 1950-an, Dia menulis tentang "Teater Pengalaman" yang isinya dapat mencakup bergbagai indera dengan cara yang efektif, sehingga dia dapat menarik penonton ke dalam pertunjukan di layar. Dia akhirnya berhasil membangun prototype Sensorama pada 1962, bersamaan dengan lima film pendek untuk dipertunjukkan di Sensorama dengan melibatkan berbagai indera (seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, dan sentuhan). Sensorama berhasil mendahului konsep komputasi digital yang digunakan saat ini, sedangkan Sensorama adalah sebuah alat mekanis, yang dilaporkan masih berfungsi hingga saat ini.
Pada tahun 1968, Ivan Sutherland, dengan dibantu oleh siswanya Bob Sproull, berhasil menciptakan pendahulu Realitas maya dan sistem  Head-mounted Augmented Reality, bernama Pedang Damocles. Alat itu masih sangat primitif baik dalam hal alat penghubung pada pemakai maupun segi realisme. Alat yang dikenakan sangat berat sehinngga diharuskan untuk digantung. Dalam segi grafiknya Pedang Damocles berisikan lingkungan maya berupa wireframe sederhana.
Terdapat pula alat yang terkenal di antara hypermedia dan sistem VR yang lebih awal adalah Peta Bioskop Aspen, yang diciptakan di MIT pada tahun 1977. Peta Bioskop Aspen merupakan simulasi kasar tentang kota Aspen di Colorado. Para pemakai bisa mengembara dalam tiga macam gaya, yaitu musim panas, musim dingin, dan poligon. Gaya musim panas dan musim dingin didasarkan pada foto asli dari lingkungan kota Aspen, dan poligon menggunakan suatu model 3D kota Aspen. Di akhir tahun 1980-an, istilah realitas maya dipopulerkan oleh Jaron Lanier, salah satu pelopor modern pada realitas maya. Lanier yang telah mendirikan perusahaan riset VPL pada 1985, berhasil mengembangkan dan membangun sistem "kacamata hitam dan sarung tangan" yang terkenal di dasawrsa itu. Sejarah perkembangan VR dapat digambarkan secara sederhana melalui grafik berikut:



Karena potensinya sangat besar, banyak perusahaan yang saat ini fokus dalam mengembangkan virtual reality dan bersaing agar dapat menghadirkan dunia virtual terbaik yang data memberikan sensasi senyata mungkin. Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain Google, Samsung, Microsoft, Lenovo, Sony, Facebook, HTC, Volvo dan banyak perusahaan lainnya. Sony berencana mengeluarkan Play Station 4 yang mendukung VR, Google membuat cardboard, bahkan Facebook megakuisisi Oculus seharga $ 2 Milyar.
Facebook memang serius ketika membeli Oculus. CEO Facebook, Mark Zuckerberg, tahu betul bahwa VR berpotensi besar dan akan sangat baik jika Facebook mengakuisisi Oculus. Saat mengakuisisi Oculus, Zuckerberg mengatakan VR merupakan medium agar manusia bisa merasakan dunia digital yang lebih imersif. Hingga saat ini, Zuckerberg terus berusaha memanfaatkan teknologi VR semaksimal mungkin. Ia bahkan berusaha menggabungkan teknologi VR dengan berbagai platform media sosialnya. Baru-baru ini, Zuckerberg memamerkan fitur yang memungkinkan pengguna Oculus Rift saling berinteraksi satu sama lain.
DI zaman ini, sudah terlihat jelas adanya perubahan cara manusia menikmati hiburan seperti bermain game dan menonton video. Teknologi industri kedepannya pun akan sangat dipengaruhi oleh semakin pesatnya perkembangan teknologi virtual reality. Ktia juga sudah sering menjumpai dalam bergbagai film tentang dunia virtual yang sangat modern, yang mungkin akan menjadi masa depan teknologi virtual reality saat ini, seperti dalam The Matrix, Sword Art Online (SAO) atau yang lainya.
http://teknologi.metrotvnews.com/news-teknologi/nN9Jr7eb-melihat-perkembangan-virtual-reality-augmented-reality-dan-mixed-reality

Tidak ada komentar:

Posting Komentar